Kemampuan Debitur dalam Pemenuhan Kewajiban pada Masa Pra-Permohonan Pencabutan PKPU Berdasarkan Asas Itikad Baik
DOI:
https://doi.org/10.55606/khatulistiwa.v6i1.8717Keywords:
Debtor, Financial Capacity, Good Faith, Insolvency, Revocation of PKPUAbstract
This research aims to analyze the interpretation of the good faith principle in the debtor's ability to fulfill obligations during the pre-PKPU revocation request period and to understand the debtor's ability to fulfill obligations during the pre-PKPU request period based on the good faith principle. This research employs normative legal research methods (doctrinal legal research) with a statute approach, conceptual approach, and case approach. Data sources consist of primary legal materials including Law Number 37 of 2004 concerning Bankruptcy and PKPU, the Civil Code, and commercial court decisions; secondary legal materials including books, legal journals, and research results; and tertiary legal materials including legal dictionaries and encyclopedias. The research findings indicate that the interpretation of the good faith principle in the debtor's ability to fulfill obligations during the pre-PKPU revocation request period encompasses interrelated objective and subjective dimensions. The objective dimension includes financial capacity that can be measured through insolvency parameters (cash flow test and balance sheet test), while the subjective dimension includes transparency, honesty, seriousness, and constructive cooperation with creditors. Inconsistency in court decisions, as evident in the differences between Decision Number 226/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN Niaga Jkt.Pst which rejected the revocation request and Decision Number 9/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN.Niaga.Mks which granted it, proves the absence of standardized criteria in interpreting the good faith principle.
References
Asikin, Z. (2001). Hukum kepailitan dan penundaan pembayaran di Indonesia. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Fatimah, H. N. (2018). Kedudukan dan perlindungan hak debitur dalam penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Jurist-Diction, 1(1), 225–242.
Fuady, M. (2014). Hukum pailit dalam teori dan praktik. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Goode, R. (2011). Principles of corporate insolvency law. London: Sweet & Maxwell.
Hartini, R. (2017). Hukum kepailitan. Malang: UMM Press.
Marzuki, P. M. (2010). Penelitian hukum. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Mertokusumo, S. (2010). Penemuan hukum: Sebuah pengantar. Yogyakarta: Liberty.
Mulyadi, K. (2001). Penundaan kewajiban pembayaran utang serta dampak hukumnya. Dalam R. A. Lontoh, et al. (Ed.), Penyelesaian utang piutang melalui pailit atau penundaan kewajiban pembayaran utang (hlm. xx–xx). Bandung: Alumni.
Perdana, I. (2020). Akibat hukum penolakan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (Studi kasus pada Putusan Pengadilan Niaga Medan Nomor 04/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN.Niaga Mdn) [Tesis, Universitas Sumatera Utara]. Universitas Sumatera Utara Repository.
Pratama, I. P. A. (2018). Penerapan asas itikad baik dalam penundaan kewajiban pembayaran utang. Jurnal Ilmiah Magister Hukum, 2(1), 78–95.
Putusan Mahkamah Agung Nomor 845 K/Pdt.Sus-Pailit/2022, tanggal 31 Mei 2022.
Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 226/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN Niaga Jkt.Pst, tanggal 31 Mei 2023.
Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Makassar Nomor 9/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN.Niaga.Mks, tanggal 5 Oktober 2023.
Raharja, N. B., & Gunardi, A. (2023). Penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dalam hukum kepailitan. Jurnal Kewarganegaraan, 7(2), 2012–2013.*
Shubhan, M. H. (2015). Hukum kepailitan: Prinsip, norma, dan praktik di peradilan. Jakarta: Kencana.
Simanjuntak, R. (2009). Pengembangan kerangka hukum kepailitan bagi pelaku usaha beritikad baik. Jurnal Hukum Bisnis, 28(1), 41–55.
Sjahdeini, S. R. (2016). Sejarah, asas, dan teori hukum kepailitan: Memahami Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran. Jakarta: Prenadamedia Group.
Tumbuan, F. B. G. (2001). Pokok-pokok Undang-Undang tentang kepailitan sebagaimana diubah oleh PERPU No. 1/1998. Dalam R. A. Lontoh, et al. (Ed.), Penyelesaian utang piutang melalui pailit atau penundaan kewajiban pembayaran utang (hlm. xx–xx). Bandung: Alumni.
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
Yani, A., & Widjaja, G. (2002). Seri hukum bisnis: Kepailitan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.






